Thumbnail

Hari ini lebih baik dari kemarin, Mungkinkah?

Tentu saja jawabannya mungkin. Bahkan tidak jarang di dalam suatu pengajian, penceramah menyampaikan kalimat berikut untuk memotivasi pendengarnya agar senantiasa lebih baik di masa depan. 

"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama (dengan kemarin) maka dia telah lalai (merugi), barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat (binasa)."

Beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah hadits, padahal sebenarnya hanya sebuah maqalah (ungkapan) yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Jika masih dianggap sebagai sebuah hadits, maka para ulama' sepakat menggolongkannya sebagai hadits maudhu' (palsu).

Yang jelas tidaklah mungkin seorangpun yang dapat melaksanakan, termasuk pula si penceramah. Secara amalan fisik contohnya begini, jika seseorang berpuasa penuh pada bulan Ramadhan, maka jika ingin "sama" saja sudah seharusnya orang tersebut berpuasa terus-menerus di bulan-bulan berikutnya. Contoh lainnya jika seseorang naik haji pada tahun ini, maka untuk "sama" saja maka orang tersebut harus naik haji terus di tahun-tahun berikutnya karena tidak mungkin melakukan ibadah haji sampai dua kali dalam setahun.

Jangankan amalan, bahkan iman-pun ternyata bisa naik turun dan perlu charge sebagaimana battery. Hal mengenai naik turunnya iman tersebut dapat kita ketahui melalui hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berikut ini:

Dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya iman akan rusak dalam diri kalian laksana rusaknya baju, maka mohonlah kepada ALLAH untuk memperbarui iman dalam kalbu kalian." (H.R. Al-Hakim)

Kebanyakan penceramah tidak menyebutkan derajat hadits ini. Untuk mengetahuinya sebaiknya diteliti melalui beberapa riwayat berikut:

  • Abu Nu'aim Al-Ashbahani meriwayatkan di dalam kitab Hilyatul Auliya dari jalan Ibrahim ibn Adham, dia berkata, "Telah sampai kabar kepadaku bahwa Al-Hasan Al-Bashri bermimpi bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat." Lalu Rasulullah menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits di atas.

Sanad hadits ini lemah karena sanad antara Ibrahim ibn Adham dan Al-Hasan Al-Bashri terputus karena Ibrahim menggunakan lafazh "telah sampai kabar kepadaku" (balaghani). Bentuk kalimat seperti ini tidak memberi faidah ittishal (bersambung sanad) sampai diketahui siapa yang mengabarkan kisah ini kepada Ibrahim.

  • Diriwayatkan di dalam kitab Musnad Al-Firdaus, dari jalan Muhammad ibn Sauqah dari Al-Harist ibn Abdillah Al-A'war dari Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu secara marfu' (sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam).

Sanad riwayat ini sangat lemah karena Al-Harits ibn Abdillah Al A'war adalah seorang pendusta.

Dari beberapa jalan, riwayat hadits ini tampak sekali kelemahan sanad-sanadnya. Selain itu, kisah-kisah ini merupakan mimpi tidur, bukan berupa hadits yang disampaikan langsung oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau masih hidup. Oleh karena itu, maqalah tersebut tidak boleh dikatakan sebagai sebuah hadits.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silahkan ia mengambil tempat duduknya di neraka." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lalu sebaiknya bagaimana...?

Alangkah lebih baik untuk mengikuti nash yang qath'i, yang terbaik untuk dijadikan pegangan dan motivasi hidup yang langsung berasal dari ALLAH Yang Benar yaitu Al-Qur'an, dimana kerugiannya dituliskan dalam bentuk umum 'khusrin'.

"Demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Q.S. Al-'Ashr 103 :1-3)

 

Colors